Malang – Bisnis budidaya udang vanamei semkain lama semakin banyak dilirik. Pasalnya, prospek yang dihasilkan dari bisnis budidaya udang nasional kian menjanjikan dari tahun ke tahun. Menurut Dirjen Perikanan Budidaya kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Ir. Slamet Soebjakto. M.si, bisnis budidaya udang menjadi bisnis yang paling siap memasuki industri modern 4.0, apalagi bisnis ini diperkirakan memiliki nilai ekonomi langsung sebesar USD 250 miliar pertahun.

Namun, bisnis budidaya udang masih dihantui beberapa penyakit yang mematikan. Beberapa dari jenis penyakit tersebut bahkan bisa membuat merugikan bisnis budidaya udang hingga 100%. Salah satu penyakit yang belum lama menyebar di Indonesia adalah Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND).

Penyebab

Dari hasil penelitian, udang yang terinfeksi AHPND diakibatkan oleh toksin dari bakteri Vibrio Parahaemolitycus (Vp AHPND) yang merusak hepatopankreas dan udang yang paling rentan terinfeksi oleh AHPND adalah jenis udang windu dan udang vaname. Karakteristik dari AHPND dapat dilihat dari kematian dini yang terjadi pada udang (larva 10-30 hari) dengan tingkat kematian massal yang cukup tinggi yaitu 40-100% hanya dalam 4 hari.

Gejala

                Gejala yang umum ditemui pada udang yang mengalami AHPND diantaranya adalah :

  1. Pada pembibitan, gerakan larva menjadi lemah dan hepatopankreas menjadi pucat
  2. Terjadi kematian mendadak pada larva dan post larva lebih dari 30%
  3. Usus kosong karena tidak terisi makanan
  4. Kulit berubah menjadi lebih lembek
  5. Udang yang menjadi berenang berputar
  6. Udang yang lemas akan mati dan tenggelam di dasar kolam

 

Penyebaran         

Penyebaran AHPND ini beragam diantaranya :

  1. penyenyebar dari indukan yang sudah terpapar AHPND, indukan tersebut dapat menyebarkan AHPND ke telurnya.
  2. penyebaran melalui pakan yang disebar. Jenis pakan alami seperti artemia dan plankton serta pakan segar seperti kerang dan cumi turut menjadi penyebar penyakit AHPND pada udang. Resiko penyebaran dapat terjadi apabila sumber dari pakan tersebut mengandung bakteri AHPND dan terbawa pada sumber pakan udang  yang diambil.
  3. Penyebaran bisa juga terjadi melalui air. Air yang menjadi media alami sangat berpotensial untuk terkontaminasi dan menjadi sarana masuknya semua jenis pathogen, baik virus, jamur, maupun bakteri dari luar/lingkungan, termasuk bakteri penyebab AHPND.

 

Tambak Yang Beresiko

        Selain keharusan mewaspadai penularan AHPND melalui pakan dan air, petambak juga harus melihat bagaimana kondisi tambak tempat pembudidayaan udang, karena terdapat beberapa ciri tambak yang memiliki resiko tinggi terjangkit bakteri AHPND, diantaranya :

  1. Tambak dengan padat tebar yang tinggi yaitu padat tebar yang lebih dari 100 ekor.
  2. Tambak dengan salinitas tinggi yaitu lebih dari 20 ppt
  3. Kualitas air dalam pembudidayanaan yang buruk
  4. Persiapan tambak yang kurang sempurna
  5. Kualitas pakan yang buruk
  6. Oksigen yang terlalu rendah pada media pembudidayaan

 

Setelah mengetahui penyebab dan penyebaran bakteri AHPND, petambak udang harus bisa lebih sigap dan waspada terhadap penyebaran bakteri AHPND. Selain sigap dan waspada, petambak juga harus melakukan tindakan pencegahan yaitu memastikan benur bebas dari AHPND, menerapkan biosecurity secara ketat, penggunaan probiotik secara terintegrasi, menghindari pemberian pakan yang berlebihan, serta menghindari kepadatan benih dalam kolam dengan penggunaan petak tendon yang lebih besar.

 

 

Sumber : Direktorat Jendral Perikanan Budidaya

Direktorat Kawasan dan Kesehatan Ikan

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *